Materi Fonologi Jos
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak
masyarakat yang memakai bahasa Indonesia tetapi ucapan daerahnya terbawa ke
dalam tuturan bahasa Indonesia. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar
bangsa Indonesia memposisikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Sedangkan
bahasa pertamanya adalah bahasa daerah masing-masing. Bahasa Indonesia hanya
digunakan dalam komunikasi tertentu, seperti dalam kegiatan-kegiatan resmi.
Banyak kajian teori mengenai bahasa ini.
Salah satunya kajian tentang fonologi. Sebagai calon pendidik selayaknya
memahami kajian tentang fonologi untuk
dijadikan pedoman mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia. Makalah ini akan
membahas pengertian fonologi, kajian fonetik, klasifikasi bunyi segmental,
klasifikasi bunyi suprasegmental, dan kajian fonemik.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian fonologi?
2. Apa
yang dimaksud dengan kajian fonetik ?
3. Apa
saja klasifikasi bunyi segmental?
4. Apa
saja klasifikasi bunyi suprasegmental?
5. Apa
yang dimaksud dengan kajian fonemik ?
C.
Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan
pengertian fonologi.
2. Menjelaskan
kajian fonetik.
3. Menjelaskan
klasifikasi bunyi segmental.
4. Menjelaskan
klasifikasi bunyi suprasegmental.
5. Menjelaskan
kajian fonemik.
D. Manfaat Penulisan
1. Untuk
memahami pengertian fonologi.
2. Untuk
memahami kajian fonetik.
3. Untuk
memamahi klasifikasi bunyi segmental.
4. Untuk
memahami klasifikasi bunyi suprasegmental.
5. Untuk
memahami kajian fonemik.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Fonologi
Secara etimologi kata fonologi terbentuk dari kata fon yang berarti bunyi, dan logi yaitu ilmu. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi
objek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik.
Dapat
disimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji
bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya. Fonologi mengkaji
bunyi bahasa secara umum dan fungsional.
B. Fonetik
Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa
tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak.
1. Fonetik dapat dibagi menjadi tiga bagian:
a. Fonetik Artikulatoris
Fonetik artikulatoris disebut juga
fonetik organis atau fonetik fisiologis meneliti bagaimana bunyi-bunyi bahasa
itu diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Fonetik artikulatoris paling
berkaitan dengan ilmu linguistik. Dalam fonetik artikulatoris alat ucap hal
pertama yang harus dibicarakan.
Penjelasan bagaimana alat-alat
ucap itu bekerja sebagai berikut :
1) Paru-paru (lung)
Bunyi bahasa dapat dihasilkan dengan arus udara yang datang dari luar
mulut. Bunyi yang dihasilkan kalau arus udara datang dari paru-paru disebut
arus bunyi egresif, dan kalau datang dari luar disebut arus bunyi ingresif.
2)
Pangkal
tenggorok (laring), pita suara,
glotis dan epiglotis
Celah diantara pita suara disebut glotis.
Pada glotis inilah awal terjadinya bunyi bahasa dalam proses produksi bunyi.
Bila glotis berada dalam keadaan terbuka lebar, tidak ada bunyi bahasa yang
dihasilkan, selain desah nafas. Bila glotis dalam keadaan terbuka agak lebar
akan terjadi bunyi tak bersuara. Bila glotis dalam keadaan tertutup rapat akan
terjadi bunyi hambat glotal.
3)
Rongga
kerongkongan (faring)
Faring berfungsi sebagai “tabung udara” yang akan ikut bergetar bila
pita suara bergetar.Bunyi bahasa yang dihasilkan disebut bunyi faringal.
4)
Langit-langit
lunak (velum), anak tekak (uvula) dan pangkal lidah
Bunyi yang dihasilkan kalau udara luar melalaui rongga hidung disebut
bunyi nasal; dan kalau udah keluar melalui rongga mulut disebut bunyi
oral.Bunyi yang dihasilkan dengan velum sebagai artikulator pasif dan dorsum
sebagai artikulator aktif disebut bunyi dorsovelar, dari gabungan kata sum dan
velum. Sedangkan yang dihasilkan oleh uvula disebut bunyi uvular.
5)
Langit-langit
keras (palatum), ujung lidah (apeks), dan daun lidah
Bunyi bahasa yag dihasilkan oleh palatum dan apeks disebut bunyi
apikopalaal. Sedangkan yang dihasilkan oleh palatum dan laminum disebut bunyi
laminopalatum.
6)
Ceruk
gigi (alveolum), apeks, dan dauh lidah (laminum)
Bunyi yang dihasilkan oleh alveolum dan apeks disebut bunyi apikoalveolur.
Lalu, yang dihasilkan oleh alveolum dan laminum disebut bunyi laminoalveolar.
7)
Gigi (dentum), ujung lidah (apeks), dan bibir (labium)
Bunyi yang dihasilkan oleh gigi atas dan apeks disebut bunyi
apikodental; dan yang dihasilkan oleh gigi atas dan bibir bawah disebut bunyi
labiodental.
8) Bibir
bawah dan bibir atas
Bibir bawah bisa juga menjadi artikulator aktif, dengan gigi atas
sebagai artikulator pasifnya. Lalu, bunyi yang dihasilkan disebut bunyi
labiodntal, dari kata labium dan dentum.
9) Lidah
(Tongue)
Posisi
lidah ke depan, ke tengah, atau ke belakang, dan ke aas atau ke bawah
menentukan jenis vokal yang dihasilkan.
10) Mulut dan rongga mulut
Secara
umum bunyi yang dihasilkan di rongga mulut disebut bunyi oral, sebagai lawan
bunyi nasal yang dihasilkan melalui rongga hidung sebagai lawan bunyi nasal
yang dihasilkan melalui rongga hidung.
11) Rongga hidung
Bunyi
bahsa yang dihasilkan melalui rongga hidung disebu bunyi nasal. Bunyi nasal ini
dihasilkan dengan cara menutup rapat-rapat arus udara di rongga mulut, dan
menyalurkannya keluar melalui rongga hidung.
b. Fonetik Akustik
Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa
sebagai peristiwa fisis atau fonema alam. Bunyi yang diselidiki frekuensi
getarannya, amplitudonya, intesitasnya dan timbrenya.
c. Fonetik Auditori
Fonetik auditori meneliti bagaimana
bunyi-bunyi bahasa itu “diterima” oleh telinga, sehingga bunyi-bunyi itu
didengar dan dapat dipahami.
2. Fonetik Memiliki Tahapan Komunikasi,
Proses Pembentukan, dan Transkripsi Fonetis
a.
Tahapan Komunikasi
Fonetik adalah cabang fonologi yang memandang bunyi bahasa sebagai fonema alam. Ini berarti bunyi bahasa dianggap sebagai subtansi yang otonom dan universal, walaupun scara linguistik ia merupakan “bahan mentah” bahasa.
b.
Proses Pembentukan Bunyi
1)
Arus Udara
Arus
udara menjadi sumber energi utama pembentukan bunyi bahasa merupakan hasil
kerja alat atau organ tubuh yang dikendalikan oleh otot-otot tertentu atas perintah
saraf-saraf otak
2)
Pita Suara
Pita
suara merupakan sumber bunyi. Ia bergetar atau digetarkan oleh udara yang
keluar atau masuk paru-paru. Pita suara terletak dalam kerongkongan (larynx)
dalam posisi muka (anterior) ke belakang (posterior).
3)
Alat ucap terdiri dari
Komponen Supraglotal, Komponen Laring, Komponen Sublotal.
c.
Transkripsi Fonetis
Trankskripsi
fonetis adalah perekaman bunyi dalam bentuk lambang tulis. Lambang tulis yang
ditetapkan oleh The International Phonetic Association (IPA), yaitu persatuan
para guru bahasa yang berdiri sejak akhir abad ke-19, yang didirikan untuk
mempopulerkan metode baru dalam pengajaran bahasa yang lebih menekankan pada
pengajaran bahasa lisan.
C. Klasifikasi
Bunyi Segmental
Klasifikasi Bunyi Segmental sebagai berikut:
a.
Ada Tidaknya Ganggguan
b.
Mekanisme udara
c.
Arah udara
d.
Pita suara
e.
Mekanisme Artikulasi
Mekanisme Artikulasi
f.
Cara gangguan
g.
Tinggi rendahnya lidah .
h.
Bentuk bibir
D. Klasifikasi Bunyi Suprasegmental
1. Pengertian bunyi
suprasegmental
Bunyi-bunyi bahasa ketika diucapkan
ada yang bisa disegmen-segmenkan, diruas-ruaskan, atau dipisah-pisahkan,
misalnya semua bunyi vokoid dan kontoid. Bunyi suprasegmental dikelompokan:
a.
Tinggi-rendahnya bunyi
(nada, tona, dan pitch)
b.
Keras-Lema (tekanan, aksen,
dan stress)
c.
Panjang-pendek (durasi, dan
duration)
d.
Kesenyapan (jeda, dan
juncture)
2. Bunyi Pengiring
Bunyi
pengiring adalah bunyi yang ikut serta muncul ketika bunyi utama dihasilkan hal
ini disebabkan oleh ikut sertanya alat-alat ucap lain ketika alat ucap
pembentuk bunyi utama difungsikan.
3. Diftong dan Kluster
a.
Diftong
Disebut diftong karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Ketidaksamaan ini menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian yang bergerak, serta strukturnya. Namun, yang dihasilkan bukan dua buah bunyi, melainkan hanya sebuah bunyi karena berada dalam satu silabel. Diftong dalam bahas Indonesia adalah [au] seperti pada kata kerbau dan harimau
b.
Kluster
Dalam bahasa-bahasa tertentu, bunyi kluster atau
konsonan rangkap (dua atau lebih) ini merupakan bagian dari struktur fonetis
atau fonotaksis yang disadari oleh penuturnya.
4. Silaba (Suku Kata)
Silaba atau
suku kata sudah lama dikenal, terutama dalam kaitannya dalam sistem
penulisannya, sebelum alfabet lahir. Sistem penulisan didasarkan atas suku kata
ini, yang disebut tulisan silabar.
5. Ciri Prosodi dalam Bahasa
Indonesia
Ciri
prosodi dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:
a.
Nada
b.
Tekanan
c.
Durasi
d.
Jeda
e.
Intonasi
6.
Pembentukan Vokal, Konsonan
a.
Pembentukan Vokal
Vokal dibedakan berdasarkan tinggi rendahnya lidah, bagian
lidah yang bergerak, bentuk bibir, dan strikturnya. Berikut ini jenis-jenis
vokal berdasarkan cara pembentukannya, yakni:
1)
Berdasarkan bentuk bibir
2)
Berdasarkan tinggi rendahnya lidah
3)
Berdasarkan bagian lidah yang bergerak
4)
Berdasarkan strikturnya
Berdasarkan strikturnya
b.
Pembentukan Konsonan
Bunyi-bunyi
konsonan biasanya dibedakan berdasarkan tiga patokan, yaitu posisi pita suara,
tempat artikulasi, dan cara artikulasi. Berikut ini klasifikasi konsonan
tersebut:
1)
Berdasarkan posisi pita suara
2)
Berdasarkan tempat artikulasi
3)
Berdasarkan cara artikulasi
E. FONEMIK
Istilah fonem dapat didefinisikan
sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem
memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem juga dapat dibatasi sebagai unit
bunyi yang bersifat distingtif atau unit bunyi yang signifikan. Fonem
dalam bahasa mempunyai beberapa macaam lafal yang bergantung pada tempatnya
dalam kata atau suku kata. Contoh fonem /t/ jika berada di awal kata atau suku
kata, dilafalkan secara lepas. Pada kata /topi/, fonem /t/ dilafalkan lepas.
Namun jika berada di akhir kata, fonem /t/ tidak diucapkan lepas. Bibir kita
masih tetap rapat tertutup saat mengucapkan bunyi, misal pada kata /buat/.
Dalam hal
ini perlu adanya fonemisasi yang ditujukan untuk menemukan bunyi-bunyi yang
berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut. Dengan demikian fonemisasi itu
bertujuan untuk menentukan struktur fonemis sebuah bahasa, dan membuat
ortografi yang praktis atau ejaan sebuah bahasa.
1. Identifikasi Fonem
Untuk mengenal dan menentukan bunyi-bunyi bahasa yang bersifat fungsional atau fonem, biasanya dilakukan melalui “ kontras pasangan minimal”. Dalam hal ini pasangan minimal ialah pasangan bentuk-bentuk bahasa yang terkecil dan bermakna dalam sebuah bahasa (biasanya berupa kata tunggal) yang secara ideal sama, kecuali satu bunyi berbeda.
2. Alofon
Bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem disebut alofon. Tentang distribusinya, mungkin
bersifat komplementer yaitu tempatnya tidak bisa dipertukarkan karena tidak
akan menimbulkan perbedaan makna. Mungkin juga bersifat distribusi bebas, yaitu
bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi
tertentu. Varian fonem berdasarkan posisi dalam kata, misal
fonem pertama pada kata makan dan makna secara fonetis berbeda. Variasi suatu
fonem yang tidak membedakan arti dinamakan alofon.
3.
Klasifikasi
Fonem
Fonem-fonem
yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran
disebut fonem segmental. Fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem
suprasegmental. Jadi, pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi itu, seperti
tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional, alias dapat membedakan makna.
4. Perubahan Fonem
Perubahan
fonem sebagai berikut:
a.
Asimilasi dan Disimilasi
b.
Netralisasi dan Arkifonem
c.
Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal
d.
Kontraksi
e.
Metatesis dan Epentesis
5. Fonem dan Grafem Bahasa Indonesia
Grafem atau
sistem pelambangan bunyi alih-alih disebut sistem ejaan ini ada dua macam,
yaitu grafem yang mengikuti sistem fonetis dan grafem yang mengikuti sistem
fonemik.
PENUTUP
A. Simpulan
Dari paparan atau penjelasan di atas, maka
penyusun dapat menyimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa
(linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan
perubahannya. Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional.
Fonetik adalah bidang linguistik yang
mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai
fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak. Kemudian fonem dapat
didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya
satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna si sebagai pembeda makna kata atau tidak.
B. Saran
Menyadari bahwa penulisan masih jauh
dari kata sempurna, kedepanya penulis akan lebih fokus dan detail dalam
mejelaskan tentang makalah di atas dengan sumber yang banyak yang tentunya dapat di
pertanggung jawabkan. Dan semoga makalah
ini dapat bermanfaat untuk kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer,
Abdul. 2012. Linguistik Umum.
Jakarta: Rineka Cipta.
Verhaar,
J. W. M. 2008. Asas-Asas Linguistik Umum.
Yogyakarta: Gdjah Mada Universitas
Press.
Muslich,
Masnur. 2010. Fonologi Bahasa Indonesia:
Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi
Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Komentar
Posting Komentar